Belajar Mendelegasikan: Hukum ke-7 dari 48 Hukum Kekuasaan dan Raja Salomo
Hukum ke-7 dalam The 48 Laws of Power (48 Hukum Kekuasaan) karya Robert Greene berbunyi, “Buatlah orang lain bekerja untukmu, tetapi selalu ambil pujiannya.” Inti hukum ini adalah belajar mendelegasikan: menyerahkan tugas kepada orang lain sambil tetap memegang kepemimpinan dan menikmati hasilnya. Dalam Alkitab, “mengambil pujian” tidak dianjurkan karena sering bertentangan dengan kerendahan hati. Meskipun demikian, ada tokoh-tokoh Alkitab yang mengarahkan orang lain dengan efektif untuk menggenapi maksud Allah, tetap berada dalam kepemimpinan, dan sering diakui sebagai tokoh utama.
Salah satu contoh terbaik dari prinsip ini adalah Raja Salomo. Salomo mendelegasikan tugas, mencari sumber daya dan keahlian dari orang lain, serta mengelola proyek-proyek besar, tetapi pada akhirnya ia dikenal sebagai orang yang menyelesaikan karya-karya agung, terutama pembangunan Bait Suci.
Salomo dan belajar mendelegasikan: kepemimpinan melalui pendelegasian
1. Pendelegasian dalam Pembangunan Bait Suci
Ayat Alkitab: 1 Raja-raja 5:6 (TB) “perintahkanlah orang menebang pohon-pohon aras dari gunung Libanon bagiku; hamba-hambaku akan bersama-sama dengan hamba-hambamu”
Konteks: Salomo bernegosiasi dengan Hiram, raja Tirus, untuk memakai para pekerja terampil dan kayu aras yang berharga dari Tirus. Salomo yang memulai proyek itu, tetapi ia bersandar pada sumber daya dan para pekerja Hiram untuk menyelesaikan Bait Suci. Pengaturan ini memungkinkan Salomo mewujudkan visinya tanpa bekerja langsung, namun ia menerima seluruh pujian atas pembangunan Bait Suci.
2. Mengangkat Para Pengurus
Ayat Alkitab: 1 Raja-raja 4:7 (TB) “Salomo mempunyai dua belas kepala daerah di seluruh Israel; mereka menyediakan makanan bagi raja dan seisi istananya; masing-masing harus menyediakan makanan sebulan dalam setahun.”
Konteks: Salomo mengangkat para pejabat atas berbagai wilayah Israel untuk mengurus persediaan bagi rumah tangganya, dengan menyerahkan pengelolaan sehari-hari kepada pemimpin yang dapat dipercaya. Sistem yang efisien ini memungkinkan dia memusatkan perhatian pada urusan negara dan hikmat, sambil dipandang sebagai pengatur dan penguasa.
3. Warisan Hikmat dan Pujian
Hikmat Salomo dan kemampuannya mengatur proyek berskala besar, seperti Bait Suci dan pemerintahan kerajaannya, membawa pengakuan yang bertahan lama baginya. Orang-orang mencarinya karena hikmatnya, sehingga ia memperoleh kemasyhuran dan kehormatan yang abadi, sementara sebagian besar pekerjaan dilakukan oleh orang lain.
Khotbah: Kepemimpinan dan Hikmat dalam Tindakan, Pelajaran dari Raja Salomo
Ayat Tema: 1 Raja-raja 5:6, 1 Raja-raja 4:7
Pendahuluan: sebuah perumpamaan
Mari kita mulai dengan sebuah cerita sederhana. Bayangkan seorang direktur utama yang memiliki visi untuk membangun gedung pencakar langit yang indah di tengah kota. Ia memimpikan bangunan yang begitu mengesankan sehingga semua orang berhenti dan mengaguminya. Namun, ia tidak punya waktu, keahlian, atau tenaga untuk membangunnya sendiri. Maka ia menghubungi para kontraktor, desainer, arsitek, dan pekerja, lalu menghimpun tim ahli untuk mewujudkan visinya. Ketika gedung pencakar langit itu akhirnya berdiri tegak, orang mengingatnya sebagai pencapaian sang direktur. Meskipun banyak orang membantu mewujudkannya, ia dikenal sebagai otak di baliknya.
Dalam arti tertentu, Raja Salomo dalam Alkitab seperti direktur itu. Ia punya impian besar bagi bait Allah, dan ia tahu cara menghimpun orang-orang yang memiliki keahlian yang tepat untuk menyelesaikan pekerjaan. Kisah Salomo mengingatkan kita pada kebenaran yang kuat: ketika kita bekerja sama dengan hikmat, memahami peran masing-masing, dan bersandar pada Allah, kita dapat mencapai hal-hal besar bagi kemuliaan-Nya.
Poin-poin Utama
1. Visi bagi Bait Allah: Mendelegasikan dengan Hikmat
Ketika Salomo menjadi raja, ia memikul tugas yang sangat besar: membangun bait bagi Allah, tempat hadirat Tuhan diam di tengah umat-Nya. Salomo punya visi, tetapi ia tahu bahwa ia tidak dapat melakukannya sendirian. Maka ia menghubungi Raja Hiram dari Tirus, yang memiliki para pekerja terampil dan kayu aras yang terbaik.
Ayat Alkitab: 1 Raja-raja 5:6 (TB) “perintahkanlah orang menebang pohon-pohon aras dari gunung Libanon bagiku; hamba-hambaku akan bersama-sama dengan hamba-hambamu”
Ulasan: Salomo memahami bahwa bait Allah membutuhkan bahan dan keahlian pertukangan yang terbaik. Ia cukup rendah hati untuk meminta bantuan dan cukup bijak untuk tahu bahwa kerja sama akan menghasilkan sesuatu yang lebih besar daripada yang dapat ia capai sendiri.
Referensi Silang dan Konteks: Amsal 15:22 (TB) “Rencana gagal kalau tidak ada pertimbangan, tetapi berhasil kalau penasihat banyak.” Tindakan Salomo mencerminkan amsalnya sendiri! Ia menyadari bahwa nasihat yang bijak dan kerja sama tim akan memastikan keberhasilan rencananya. Ini adalah pekerjaan Allah, sehingga ia ingin pekerjaan itu dilakukan dengan sebaik-baiknya.
Dengan menghubungi Hiram, Salomo tidak menghindar dari tanggung jawab; ia sedang memakai hikmat. Visi itu miliknya, tetapi ia tahu Allah juga dapat bekerja melalui orang lain. Ini pelajaran penting bagi kita juga: hikmat sejati tahu kapan harus melibatkan orang lain, karena menyadari bahwa Allah dapat memakai mereka untuk menyelesaikan rencana-Nya.

2. Mengangkat Pemimpin dan Mendelegasikan Tanggung Jawab
Salomo tidak berhenti pada pengumpulan sumber daya. Ia mengangkat para pemimpin atas berbagai wilayah Israel untuk mengurus persediaan, sebuah sistem yang menjaga kerajaan tetap teratur dan makmur. Setiap pejabat ini bertanggung jawab menyediakan makanan dan perlengkapan, sehingga Salomo dapat memusatkan perhatian pada tugasnya sebagai raja.
Ayat Alkitab: 1 Raja-raja 4:7 (TB) “Salomo mempunyai dua belas kepala daerah di seluruh Israel; mereka menyediakan makanan bagi raja dan seisi istananya; masing-masing harus menyediakan makanan sebulan dalam setahun.”
Ulasan: Dengan mengangkat dua belas pejabat, Salomo membangun sebuah struktur bagi kerajaannya. Setiap pejabat mengelola sumber daya selama satu bulan dalam setahun, sehingga persediaan bagi rumah tangganya dan kerajaan mengalir dengan tetap. Salomo memimpin dengan hikmat, tidak mengurus segala hal secara mendetail, melainkan memercayai orang lain untuk menjalankan tugas mereka.
Referensi Silang dan Konteks: Keluaran 18:21-22 (TB) “Selain itu kaucari dari seluruh bangsa itu orang-orang yang cakap dan takut akan Allah, orang-orang yang dapat dipercaya dan yang benci kepada suap; engkau harus menempatkan mereka di antara bangsa itu menjadi kepala atas seribu orang, kepala atas seratus orang, kepala atas lima puluh orang dan kepala atas sepuluh orang.” Inilah persis yang dilakukan Musa ketika Yitro menasihatinya untuk mendelegasikan, dengan membentuk sistem pemimpin yang dapat dipercaya untuk menangani tugas-tugas yang lebih kecil. Pemerintahan Salomo mencerminkan model ini, menunjukkan bahwa kepemimpinan yang bijak sering berarti memberdayakan orang lain untuk ikut memikul beban.
Sistem Salomo memungkinkan dia fokus pada hal-hal yang lebih besar. Ia tidak terganggu oleh perincian, karena ia memercayai orang-orang yang telah ia tempatkan sebagai penanggung jawab. Dan sebagai umat Allah, ketika kita menaruh percaya kepada-Nya dan kepada kemampuan yang telah Ia berikan kepada orang lain, kita mendapati bahwa pekerjaan-Nya terlaksana dengan efisien dan efektif.
3. Warisan Hikmat Salomo yang Abadi
Bait Suci menjadi salah satu pencapaian besar Salomo, tempat yang melambangkan kemuliaan Allah di bumi. Meskipun para pekerja dari Tirus yang membangunnya, Bait Suci itu dikenal sebagai “Bait Suci Salomo.” Allah memberinya hikmat bukan hanya untuk pembangunan, tetapi untuk kepemimpinan, agar ia melihat Bait Suci itu selesai dan ditahbiskan sebagai tempat kediaman Allah di tengah umat-Nya.
Ulasan: Salomo dikenang sebagai raja yang membangun Bait Suci, namun ia tidak akan dapat melakukannya sendirian. Para pekerja, para pembangun, dan bahkan Hiram dari Tirus memainkan peran yang sangat penting, tetapi visi dan hikmat Salomolah yang pada akhirnya mewujudkannya.
Referensi Silang dan Konteks: Yakobus 1:5 (TB) “Tetapi jika di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit, maka hal itu akan diberikan kepadanya.” Kisah Salomo mengingatkan kita bahwa hikmat adalah karunia dari Allah. Sama seperti Salomo meminta hikmat dan menerimanya, kita juga dapat meminta Allah memberi kita hikmat untuk mengelola dan menunaikan tugas-tugas yang Ia percayakan kepada kita.
Pada akhirnya, Salomo dikenal sebagai pembangun Bait Suci, tetapi kemuliaan menjadi milik Allah. Itulah tujuan sejati kepemimpinan yang bijak: melaksanakan kehendak Allah dan memberi hormat kepada-Nya.
Kesimpulan: Kristus sebagai Teladan Sempurna dalam Kepemimpinan dan Pendelegasian
Kepemimpinan Salomo mengesankan, tetapi Yesus membawa prinsip kepemimpinan yang bijak ke bentuknya yang tertinggi. Yesus memiliki misi untuk menjangkau dunia dengan berita keselamatan dari Allah, tetapi Ia tidak mencoba melakukannya sendirian. Sebaliknya, Ia memanggil dua belas murid, memperlengkapi mereka, dan mengutus mereka untuk memberitakan kabar baik.
Yohanes 14:12 (TB) Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu, sebab Aku pergi kepada Bapa.” Yesus mengajar murid-murid-Nya, memberdayakan mereka, lalu memercayai mereka untuk melanjutkan pekerjaan-Nya, dengan menjanjikan bahwa mereka akan melakukan hal-hal yang lebih besar dalam nama-Nya. Ia tahu misi-Nya akan berlanjut melalui orang lain, yang dipimpin oleh Roh, lama setelah kenaikan-Nya.
Matius 28:19-20 (TB) Yesus memberikan Amanat Agung, dengan berkata, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.” Di sini, Yesus mempercayakan kepada para pengikut-Nya tugas menyebarkan Injil sampai ke ujung bumi, memberi teladan pendelegasian dan pemberdayaan.
Pada Salomo maupun Yesus, kita melihat model kepemimpinan yang bijak yang mendelegasikan dan memberdayakan. Yesus mempercayakan misi-Nya kepada murid-murid-Nya, memberi mereka kuasa dan Roh Kudus untuk menuntun mereka. Dengan demikian, Ia menggenapi tindakan kepemimpinan bijak yang paling utama, sehingga pekerjaan Allah dapat terus berlanjut melalui kita masing-masing hari ini.
Karena itu, entah kita sedang memimpin suatu pelayanan, mengelola suatu proyek, atau sekadar bekerja sama dalam kerajaan Allah, marilah kita mengingat pelajaran dari Salomo dan Kristus. Kepemimpinan yang bijak berarti memiliki visi, memberdayakan orang lain, dan memberikan kemuliaan kepada Allah. Kita mungkin memegang peran yang berbeda, tetapi bersama-sama, dengan hikmat dan kasih karunia Allah, kita dapat menyelesaikan pekerjaan-Nya dan memantulkan kemuliaan-Nya kepada dunia.
Catatan-catatan ini bagian dari seri khotbah tentang 48 Hukum Kekuasaan. Kamu juga dapat membaca catatan tentang Hukum ke-5: menjaga reputasi dan pengajaran sebelumnya, jangan melampaui sang tuan.
Untuk pengajaran lain seperti ini, silakan telusuri pustaka khotbah Solo Faith, atau kirim permohonan doa jika kamu ingin ada yang berdoa bersamamu.
Solo Faith Church membagikan catatan khotbah seperti ini agar para tetangga yang tidak sempat hadir di ibadah tetap dapat mengikuti pengajarannya. Kebiasaan Salomo membagi pekerjaan dengan orang lain adalah pelajaran bagi siapa pun yang memimpin pelayanan, tim, atau rumah tangga di Concord.
Tonton Pesan Lengkapnya
Setiap ibadah disiarkan langsung dan disimpan agar dapat ditonton kapan saja. Tonton ibadah lengkapnya.
Catatan Dukungan Komunitas: Tulisan ini bagian dari pelayanan pengajaran dan inisiatif jurnalisme komunitas Solo Faith Church. Tulisan ini merangkum khotbah Solo Faith Church dalam seri 48 Hukum Kekuasaan, dengan rujukan ayat dari 1 Raja-raja pasal 4 dan 5.




Komentar