Pertobatan sejati memperbaiki kerusakan: Pendeta Doug tentang Lukas 19
Pendeta Doug (Doug Lattimore) berkata kepada jemaat bahwa ia tidak akan menahan mereka lama-lama. Ia membuka Lukas 19, membaca sepuluh ayat tentang seorang pria pendek di atas pohon, lalu menghabiskan sisa pesannya untuk membahas pertobatan sejati, dimulai dari satu kalimat yang biasanya terlewat begitu saja. Kalimat itu hadir sebagai pertanyaan, dan bukan pertanyaan yang nyaman: jika kamu sudah mengucapkan maaf tetapi tidak pernah memperbaiki apa yang kamu rusak, apakah kamu sungguh-sungguh sudah bertobat?
Seorang Pemungut Cukai, Sebatang Pohon Ara, dan Kalimat yang Selalu Dilewati
Kebanyakan dari kita mengenal garis besar kisahnya. Zakheus adalah kepala pemungut cukai di Yerikho, kaya, dan dibenci banyak orang. Ia terlalu pendek untuk melihat melewati kerumunan, maka ia memanjat sebatang pohon. Yesus (Yeshua) berhenti tepat di tempat itu, memanggilnya turun dengan menyebut namanya, dan berkata bahwa Ia akan singgah di rumahnya. Orang banyak bersungut-sungut. Pendeta Doug berhenti sejenak di bagian ini, karena ia sendiri pernah mengalaminya: ketika Kristus memanggilmu, ada orang yang tidak akan menyukainya. Teman-teman pergi. Keluarga membicarakan. Katanya, dia sudah berubah. Benar, karena sekarang Kristus bersama saya.
Tetapi khotbah ini sebenarnya bukan tentang pohonnya. Khotbah ini tentang apa yang dikatakan Zakheus ketika ia berdiri di hadapan Yesus. Ia berjanji memberikan setengah hartanya kepada orang miskin, lalu melangkah lebih jauh: siapa pun yang pernah ia tipu, akan ia bayar kembali empat kali lipat. Baru setelah itu Yesus menjawabnya.
“Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini.” — Lukas 19:9 (TB)
Urutan waktu itulah intinya. Seperti yang dikatakan Pendeta Doug, keselamatan tidak dinyatakan ketika Zakheus melihat Yesus, atau ketika Yesus melihatnya, atau ketika ia turun dari pohon. Keselamatan datang ketika ia berkata bahwa ia akan membereskannya.
Lima Hal yang Dipaksa Dihafalkan oleh Neneknya
Sebelum menjadi pendeta, Pendeta Doug adalah seorang anak laki-laki yang dilatih keras oleh neneknya, yang juga adalah pendetanya. Neneknya menyuruhnya mengangkat kedua tangan dan menunjukkan rencana keselamatan Allah, lalu ia menghitungnya satu per satu: percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadi; bertobat dari segala jalanmu; dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosa; menerima karunia Roh Kudus; dan hidup dalam segala jalan-Nya, menuruti perintah-perintah-Nya.
“Kalau Nenek tidak melakukan apa-apa selain mengajarkan ini kepadamu,” kata neneknya kepadanya, “berarti Nenek sudah menyelesaikan tugas Nenek.” Puluhan tahun kemudian, ia masih bisa melafalkannya kata demi kata. Ia mengatakannya dengan terang-terangan dari mimbar: ia bisa tergelincir, bisa jatuh, bisa mundur, tetapi neneknya memastikan ia selalu tahu jalan pulang. Pesan ini membahas langkah yang kedua.
Pertobatan Sejati Lebih Berkaitan denganmu daripada dengan Mereka
Penyebab orang jatuh dalam dosa pasti datang. Firman Tuhan mengatakannya, dan hidup membuktikannya. Orang berselisih: dengan Allah, dengan orang tua, dengan rekan kerja, dengan orang-orang yang dulu paling dekat. Pengamatan Pendeta Doug adalah bahwa orang yang dewasa bisa berpisah tanpa menimbulkan kerusakan. Masalahnya adalah apa yang terjadi ketika kita belum dewasa. Kita marah, lalu membicarakan orang itu. Kita menjegal. Kita mempersulit keadaannya, karena itu membuat kita merasa benar. Maka muncul dua masalah: sikap negatif kita sendiri, dan puing-puing yang kita tinggalkan dalam hidup orang lain.
Gambaran yang ia berikan tentang apa yang dilakukan pertobatan sejati patut direnungkan: pertobatan mengembalikanmu ke posisi netral sehingga kamu bisa kembali berjalan dalam hal yang positif. Hal pertama yang Kristus beritakan sewaktu keluar dari padang gurun adalah bertobatlah. Bukan minta maaf. Bertobat. Dan dalam Perjanjian Lama, orang yang mencuri seekor hewan tidak cukup hanya menyatakan penyesalan, melainkan wajib mengganti rugi. Zakheus, yang menarik pajak berlebih dari bangsanya sendiri di atas apa yang dituntut Roma, memahami tugasnya. Pembayaran empat kali lipat adalah caranya berkata: saya akan memperbaiki kerusakan itu.
Dari sini muncul kalimat yang paling berat dalam khotbah ini. Jika pertobatan sejati disyaratkan untuk masuk ke dalam kerajaan Allah, mengapa hampir tidak ada yang mengajarkan bahwa pertobatan itu mencakup memperbaiki apa yang telah kita rusak? Sebagian dari kita sudah bertobat dalam hati, sudah menyampaikan permintaan maaf, lalu menganggap perkaranya selesai, padahal kerusakannya masih ada di luar sana. Ada orang yang kehilangan hubungan. Ada orang yang kehilangan uang. Ada orang yang kehilangan keluarga dan sahabat karena apa yang dikatakan tentang mereka. Pendeta Doug menyebut kesenjangan itu secara langsung: jika ada kerusakan yang belum kamu perbaiki, masih ada pertobatan yang harus dijalani.
Ada satu hal yang ia sampaikan dengan hati-hati, dan itu penting. Permintaan maaf tidak menyelamatkanmu. Perbaikan tidak menyelamatkanmu. Kristuslah yang menyelamatkanmu. Tetapi ketika Ia menyelamatkanmu, Ia membuka hatimu untuk kembali dan memperbaiki kerusakan yang kamu timbulkan, dan itulah, kata Pendeta Doug, wujud nyata dari mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri. Ia juga tidak berpura-pura bahwa itu mudah. Itu menuntut kita menelan sebagian harga diri. Itu menuntut kita mendatangi seseorang dan berkata bahwa kita tadinya marah, kita mengatakan hal-hal tertentu, dan kita datang untuk membereskannya.
Ini Bagian Pertama dari Dua Bagian
Pendeta Doug menutup dengan memberi tahu jemaat bahwa pesan berikutnya akan membahas rekonsiliasi sejati. Pertobatan adalah pekerjaan yang kamu lakukan, di hadapan Allah dan atas kerusakan yang kamu timbulkan. Rekonsiliasi adalah apa yang menjadi mungkin sesudahnya. Bagian kedua kini sudah disampaikan dan diunggah: Rekonsiliasi Sejati Membutuhkan Dua Pihak, yang menelusuri 2 Korintus 5 dan kisah Yusuf bersama saudara-saudaranya, termasuk bagian yang dilewati kebanyakan khotbah, tentang mengetahui dengan siapa kita tidak perlu berdamai.
Pertanyaan yang Sering Diajukan tentang Pertobatan
Apakah mengucapkan maaf sama dengan bertobat?
Dalam pesan ini, tidak. Permintaan maaf menyentuh perasaan; pertobatan menyentuh puing-puing kerusakan. Poin Pendeta Doug dari Lukas 19 adalah bahwa Zakheus tidak berhenti pada penyesalan, ia berkomitmen untuk mengganti rugi, dan saat itulah Yesus menyatakan bahwa keselamatan telah datang ke rumahnya.
Bagaimana jika kerusakannya tidak bisa dipulihkan?
Penekanan khotbah ini adalah pada kerelaan hati, bukan pada pembukuan yang sempurna. Zakheus dipuji karena apa yang rela ia lakukan dalam hatinya. Pertanyaan yang diajukan pesan ini kepada pendengar adalah apakah ada sesuatu di pihakmu yang bisa kamu perbaiki tetapi sengaja kamu pilih untuk tidak dilakukan.
Apakah pertobatan mengharuskan orang lain mengampuni saya?
Pendeta Doug menggambarkan pertobatan sebagai pekerjaan yang kamu lakukan di hadapan Allah dan terhadap orang yang kamu sakiti, dan tidak bergantung pada tanggapan mereka. Itu salah satu alasan ia memisahkan pertobatan dari rekonsiliasi dan memberi masing-masing satu pesan sendiri.
Tempat Menonton dan Tempat Menemukan Kami
Pesan lengkapnya ada di bagian atas halaman ini. Solo Faith Church adalah persekutuan nondenominasi yang mengutamakan digital di Concord, NC, dengan dua ibadah tatap muka yang terpisah setiap akhir pekan, yaitu Sabat hari Sabtu pukul 13.00 dan hari Minggu pukul 13.00, keduanya disiarkan langsung, di 587 Old Charlotte Rd SW, Concord, NC 28027. Pesan-pesan sebelumnya tetap tersedia daring; kamu bisa menonton dan melihat khotbah kami secara daring kapan saja. Hubungi kantor di 704.214.5422 atau admin@solofaith.org.
Dalam doa penutup, Pendeta Doug mengucap syukur kepada Allah untuk semua orang yang menonton dari Facebook dan YouTube, untuk para pemusik, dan untuk semua orang yang diberi makan oleh gereja pada hari itu. Bagian terakhir itu bukan sesuatu yang kebetulan bagi pesan seperti ini. Solo Faith Church adalah organisasi nirlaba 501(c)(3) yang menjalankan pantri makanan daring gratis dan program pengantaran yang diotomatisasi dengan AI dan didukung DoorDash, mengantarkan bahan makanan ke depan pintu rumah tangga di Concord dan Cabarrus County yang menghadapi hambatan transportasi, tanpa biaya, tanpa penghakiman, tanpa berkas. Memperbaiki kerusakan dan menyingkirkan hambatan adalah naluri yang sama, hanya diarahkan ke dua arah.
Solo Faith Church menerbitkan pesan ini karena bagian tersulit dari pertobatan adalah bagian yang menuntut pengorbanan, dan gereja yang tidak mau memberitakan bagian itu tidak menolong siapa pun. Concord dan Cabarrus County dipenuhi sesama warga yang menanggung kerusakan yang tidak pernah dipulihkan oleh pelakunya, dan firman yang mengutus orang kembali untuk membereskannya layak ditaruh di tempat yang bisa ditemukan siapa saja.
Kamu Diundang: Kunjungi Solo Faith Church Akhir Pekan Ini
Solo Faith Church mengadakan ibadah Sabat hari Sabtu dan ibadah hari Minggu pukul 13.00 di 587 Old Charlotte Rd SW, Concord, NC 28027. Datanglah apa adanya. Tidak perlu berpura-pura. Bergabunglah dengan kami Sabtu atau Minggu pukul 13.00.
Catatan Dukungan Komunitas: Tulisan ini bagian dari inisiatif jurnalisme komunitas Solo Faith Church, yang membagikan pengajaran dan pelayanan dari jemaat kami kepada sesama warga di seluruh Concord dan Cabarrus County. Isi artikel ini diambil dari transkrip khotbah sebagaimana disampaikan, yang diberikan langsung kepada Solo Faith Church; rujukan Alkitab diambil dari Lukas 19:1-10.




Komentar